Spiritual Business is Good Business

Syafii Antonio : pakar ekonomi syariah

“Spiritual business is good business, good business is profitable business”, kata Muhammad Syafii Antonio, pakar ekonomi Islam yang juga Chairman Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia. Spiritual Business tidak terlepas dari hijrah, malah bisa dikatakan dimulai dari hijrah.

Syafii Antonio juga mengalami masa hijrah ketika memutuskan kuliah di Universitas Jordan, Amman, Yordania, pada 1986. Selama kuliah, matanya seperti dibuka melihat keterbelakangan umat Islam di seluruh dunia. “Saya merasa sangat terpanggil untuk mengatasi masalah itu, caranya dengan ekonomi syariah”, kata Antonio kepada Majalah Sharing.

Nah, bagaimana muallaf yang dulu bernama Nio Gwan Chung ini memandang hijrah secara ekonomi?

Apa makna hijrah ekonomi bagi Anda?

Saya lebih melihatnya sebagai keterkaitan spiritualisme dalam bisnis. Islam adalah satu agama yang tidak memisahkan antara ibadah dan ekonomi, antara tauhid dan manufaktur. Salah satu yang mendominasi kehidupan kita dan mengambil waktu paling besar adalah soal ekonomi. Oleh karena itu, nilai-nilai tauhid dan spiritual harus masuk dalam segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi, misal proses produksi, distribusi, pembiayaan, corporate culture, sampai konsumsi. Dan kita semakin hari semakin yakin bahwa, dengan makin dalam dan makin merasuknya nilai-nilai spiritual, bisnis bisa semakin bersih, transparan, adil, dan baik. Bukan semakin terpuruk atau terbelakang, itu yang saya lihat.

Apa kelebihan spiritualisme dalam bisnis?

Banyak, meskipun kini saya melihat masih ada saja kendalanya. Misalnya, ada saja beberapa pihak yang melihat kalau berbisnis dengan nilai-nilai spiritual, bisnis kita akan terbatas. Tetapi ini sesungguhnya tidak demikian. Semakin kita bersyariah apalagi lengkap, kita akan mendapatkan keberkahan. Dan orang merasa yakin bahwa bisnis kita itu penuh amanah dan kejujuran. Dalam jangka panjang, spiritual business is good business, good business is profitable business. Dalam jangka panjang, bisnis yang spiritual, bisnis yang bersyariah akan semakin baik dan menjanjikan.

Apa saja persiapan untuk hijrah?

Pertama, kita yakin bahwa dalam ekonomi juga perlu fadhlu kifayah, niat berbisnis hendaknya untuk memakmurkan bangsa dan masyarakat. Oleh karena itu, ketika kita memakmurkan, kita harus ingat apa tujuan akhir dari seluruh proses ini, adalah keberkahan di dunia dan akhirat. Dan ini tidak terlepas dari bessing Allah SWE. Dan ternyata, dunia semakin yakin, jika kita concerned kepada nilai-nilai spiritual, concerned pada syariah, akan menumbuhkan kepercayaan. Lalu, kepercayaan akan mempercepat transaksi. Lalu, ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sisi lainnya, kepercayaan menghilangkan birokrasi yang tidak perlu, malah ini menimbulkan order tambahan dan menumbuhkan trust dari klien. Itu yang diharapkan.

Dan dengan danya semangat berbagi yang di dalam Islam yang disebut zakat, infak, dan sodaqoh (ZIS) atau dalam bisnis konvensional biasa disebut Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan ini mampu mempercepat proses menuju kemakmuran. Ada satu buku bagus tentang spiritualisme dalam bisnis saat ini, The Speed of Trust, ditulis oleh Stepen M.R. Covey (anak dari Stepen R. Covey). Isinya menurut saya syariah semua, hanya disampaikan dalam bahasa barat.

(Majalah Sharing edisi Februari 2008)

Satu pemikiran pada “Spiritual Business is Good Business

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s