Kondisi Ekonomi Perbankan Indonesia 2008-2009

Perjalanan perekonomian Indonesia di tahun 2008 penuh dengan tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Pasalnya siapa yang menduga, krisis keuangan global terjadi di tahun itu dan akibatnya dampak tersebut mulai dirasakan negara berkembang, khususnya Indonesia.

Meskipun dampak dirasakan belum separah yang dialami negara maju, di mana sumber tsunaminya berasal. Namun ada khwatiran dari pelaku ekonomi dan pengusaha dalam negeri. Pasalnya banyak ramalan dan analisis dari pengamat ekonomi memperkirakan dampak dari resesi ekonomi dunia akan terasa pada tahun 2009, sehingga memaksa pemerintah harus bekerja keras memutar otak mengantisipasi dampak lebih buruk ditahun mendatang.

Krisis ekonomi global mulai ditandai dengan runtuhnya lembaga keuangan terbesar di dunia asal Amerika Lehman Brother, kredit macet sektor perumahan (subprime mortgage) dan disusul kebangkrutan industri otomotifnya, seperti General Motor dan Ford. Musibah yang menimpa di Amerika juga serentak dirasakan negara-negara maju Eropa. Maka tak ayal, negara maju saja tidak bisa mengelak dari krisis keuangan global dan apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

Ternyata betul saja, dampak krisis sempat memberikan sentimen buruk bagi lembaga keuangan bank dan non bank di Indonesia. Pasar modal dalam negeri juga sempat terkoreksi pada level yang paling buruk dampak menularnya kejatuhan pasar bursa di Wall Street. Terkoreksinya pasar bursa dalam negeri sempat membuat otoritas bursa menutup pasar dalam waktu dua hari.

Hal ini memaksa dunia perbankan Indonesia harus menghadapi tahun 2009 yang lebih berat dan suram. Karena dampak tekanan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi mulai dirasakan di kuartal pertama. Kredit akan semakin hati-hati dengan likuiditas yang terbatas dan suku bunga yang mahal.

Tidak sampai di situ saja, gejolak yang mewarnai perbankan di tahun 2009 semakin ramai seperti perebutan dana pihak ketiga semakin ketat, likuiditas yang ketat membuat perbankan mengerem ekspansi kredit, obligasi dan pasar saham akan semakin lesu, niliai tukar rupiah fluktuatif dan cenderung melemah, suku bunga tinggi dan penurunan aktifitas ekonomi.

Pengamat perbankan dari Infobank Eko B. Supriyanto menuturkan, di masa yang sulit tahun 2009 harus tetap disikapi dengan rasa optimisme. Pasalnya di akhir tahun 2009 kinerja perbankan diperkirakan masih sesuai dengan rencana, baik target kredit dana dan laba.

Menurutnya, beratnya ekonomi di tahun 2009 berhasil disikapi dengan kehati-hatian dengan menjaga likuiditas perbankan, “Bank harus waspada potensi peningkatan NPL dan harus segera restrukturisasi NPL yang meningkat,”paparnya.

Pemerintah dan bank sudah mendorong sektor riil dan ekspor non migas, mencegah pelarian dana ke Singapura dan Malaysia dengan program penjaminan 100 persen, stimulus keuangan pemerintah dari pemilu dan belanja modal BUMN dan Negara, optimalisasi Perpu Jaringan Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) dan terakhir mewaspadai sekecil apapun isu dan rumor negatif.

(resume dari beberapa artikel okezone.com, oleh Muhamad Rizky Rizaldy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s