Tentang Zakat dan Negara yang Gagal

oleh: Moh. Arifin Purwakananta (Direktur Program Dompet Dhuafa)

Moh. Arifin Purwakananta

Empat hari lalu saya menerima pesan singkat dari K.H. Solahuddin Wahid , yang akrab dipanggil Gus Sholah, tentang sebuah pesantren di sebuah kampung yang pemimpinnya meninggal dan harus diwariskan kepada anaknya yang seorang ustaz muda. Beliau meminta Dompet Dhuafa kiranya dapat membantu pesantren ini dan saat itu juga saya langsung menghubungi ustaz muda ini untuk mendalami apa yang bisa dilakukan untuk pesantren ini. Bukan tanpa sebab Gus Sholah mengenal baik Dompet Dhuafa. Dalam sebuah obrolan santai bersama beliau, saya bahkan terkaget Gus Sholah memahami detail mengenai Dompet Dhuafa. Bukan saja beliau membaca banyak hal tentang lembaga amil zakat ini namun juga mengkliping setiap berita Dompet Dhuafa. Tawarannya agar Pesantren Tebu Ireng yang dipimpinnya bisa belajar ke Dompet Dhuafa saya anggap sebagai pujian, dan saya katakan bahwa Dompet Dhuafa akan belajar bagaimana sebuah pesantren seperti Tebu Ireng bisa eksis selama 200 tahunan.

Punya napas yang hampir sama dengan pesantren yang lahir pada abad 19 dan mampu mencetak generasi ulama besar dan melahirkan semangat kemerdekaan negara ini, gerakan zakat yang lahir di era 90-an telah memberikan warna baru bagi gerakan sosial dan keagamaan negeri ini. Gerakan zakat di Indonesia ditandai lahirnya YDSF, Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat, DPU DT, dll—yang kemudian diikuti oleh lahirnya semangat zakat di Indonesia—memang tengah diuji keteguhan visinya. Sebagai gerakan perlawanan masyarakat untuk memperbaiki bangsanya, Lembaga Amil Zakat (LAZ) sejak lahir telah dimandati cita-cita luhur itu.

Dompet Dhuafa misalnya, memulai dari dana patungan dari para wartawan dan potongan gaji para karyawan Harian Republika serta keluarganya dan segera melakukan sesuatu untuk membela kamum miskin. Karena nilai yang luhur dan kesungguhan itulah Dompet Dhuafa menarik banyak simpati dan mendorong masyarakat ikut mendanai program-program pemberdayaan ini. Gerakan yang membola salju ini membawa sebuah ajaran pemberdayaan, semangat berekonomi yang adil sesuai syariah, kepedulian kepada saudara kita yang miskin dan semangat dakwah, yang dalam konteks rukun Islam terwadahi dalam makna Zakat.

Sebagaimana tantangan yang dihadapi pesantren, sebagai sunnatullah, gerakan zakat tentu saja akan mengalami masa ujian yang berat. Satu dasawarsa yang telah dilampaui, gerakan zakat telah mampu melewati batu uji profesionalisme dan penggalangan kepercayaan publik. Ketika masalah klasik gerakan keumatan adalah SDM berkualitas dan kesolidan tim, gerakan zakat mampu membangun dirinya menjadi profesional dan menjadi lembaga yang berkembang. Gerakan zakat di masa ini juga mampu membangun ketertarikan masyarakat tentang isu syariat zakat. Tak bisa dipungkiri, syariat zakat yang dulu terpinggirkan karena merupakan ranah ketaatan beragama, kini sudah merambah kepada isu sosial, bahkan saat ini masuk ke dalam isu ekonomi pemberdayaan. Bank Indonesia bahkan telah memasukkan bidang zakat ini sebagai Voluntary Sector yang memperkuat sektor pendukung ekonomi Indonesia lainnya. Gerakan LAZ ini bahkan telah mendorong semangat baru menegakkan syariat zakat ini diberdayai. Kerja sama pengembangan LAZ di pesantren-pesantren tercatat makin subur. LAZ di kampus-kampus semakin bertambah banyak dan maju, juga LAZ-LAZ masjid yang kini sudah semakin baik dan profesional. Zakat sebagai arus utama dalam wacana sosio-ekonomi sudah mendapatkan modal yang cukup untuk dilesakkan sebagai salah satu kekuatan sosial dalam wacana pengentasan kemiskinan, pembangunan spiritual bangsa, dan semangat membangun peradaban yang unggul sebagai bangsa.

Sayangnya pada dasawarsa kedua ini gerakan zakat justru mendapat tantangan dari apa yang selama ini dibelanya, yaitu negara. Ide formalisasi zakat yang memaksakan dana publik berupa zakat, infak, sedekah, bahkan wakaf yang akan dikelola negara ini kini tengah digodok serius dan sudah disebarluaskan oleh pemerintah ke media massa. Peniadaan LAZ mengagetkan banyak pihak dan masyarakat, karena justru ketika Dompet Dhuafa tengah mendapat sederet penghargaan berupa Sertifikasi ISO, Penghargaan Social Entrepreneurship Award dari Ernst & Young, Marketing Award untuk kategori Innovation dan kategori Experience Marketing, penghargaan MURI sebagai panitia kurban terbesar, kerja sama dengan berbagai Pemda untuk mengembangkan pemberdayaan di daerah, sebagai suatu bukti peran pentingnya di masyarakat. Saat ini kita memang sedang menunggu sejarah dituliskan, apakah negara ini berhasil memberangus gerakan zakat yang notabene ditumbuhkan oleh masyarakat ini.

Lalu siapakah yang mampu membendung keinginan negara menutup LAZ Dompet Dhuafa dan lainnya? Saya malu untuk menyampaikan kegalauan ini kepada Gus Sholah, atau tokoh-tokoh lain di negeri ini yang telah lama menjadi pendukung gerakan kebaikan ini. Kalaulah Dompet Dhuafa diberangus, mohon doakan kami akan tetap bertekad berusaha sekuat upaya tetap membantu pesantren, membantu mereka yang selama ini tak bisa sekolah karena sekolah dibuat mahal, membantu mereka yang sakit agar bisa memperoleh layanan pengobatan yang bermartabat, membantu para buruh petani, tukang sayur, tukang ojek, pengasong, pengamen, dan masyarakat terpinggirkan lainnya yang selama ini hanya paham bahwa negara ini ada hanya ketika mereka ditangkapi, digusur, dan dipinggirkan. Agar saudara kita yang dhuafa ini tak perlu kecewa karena banyak menuntut kepada negara yang gagal ini.

sumber: Republika edisi Jumat, 11 Desember 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s