Bicara Soal “Latah”

Mungkin sebagian dari kita menganggap latah hanyalah sandiwara seseorang untuk tujuan tertentu, untuk mecari perhatian misalnya, layaknya seorang pelawak yang kemudian menjadi identitas kekocakannya. Namun, bila orang terdekat kita yang mengidap “penyakit” ini, atau malah kita sendiri, barulah kita percaya bahwa latah ternyata bukan rekayasa, walaupun kerap tetap pada awalnya adalah sandiwara.

Seorang psikolog, Dr. Rinrin R. Khaltarina, Psi., M.Si., dalam www.pikiran-rakyat.com, mengemukakan tentang latah ini sebagaimana paparannya berikut, namun sebelumnya kita lihat pengertian latah ini.

Menurut KBBI edisi ketiga, “Latah terjadi pada orang yang; (1) menderita sakit syaraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain, (2) kelakuan seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi), (3) meniru-niru sikap, perbuatan, kebiasaan orang atau bangsa lain, dan (4) mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh.

Pada umumnya, banyak orang menganggap bahwa latah merupakan kebiasaan sepele yang tak ada kaitannya dengan penyakit. Padahal, latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psikologis, dan sosial.

Masing-masing faktor itu saling mempengaruhi. Bahkan, latah juga merupakan gangguan culture bond atau terikat dengan sistem kultur budaya tertentu.Di Indonesia, gangguan latah berkembang pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Sementara itu, di wilayah Asia lainnya, penyakit latah ditemukan antara lain di tengah masyarakat suku Ainu di Jepang dan masyarakat gurun pasir di Gobi. Di Eropa, latah juga ada pada suatu suku di Prancis.

Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Teori kuno menyatakan, penderita latah biasanya orangtua, perempuan, berpendidikan rendah, dan berasal dari kelas ekonomi bawah. Namun, teori ini tak sepenuhnya tepat. Buktinya, kini banyak remaja yang mengidap latah, dalam kehidupan sosial yang mapan pula. Penderita latah pria pun ada meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan perempuan.

Penyebab dan Jenis Latah

Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab timbulnya gangguan ini :

Teori Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang, tanpa merasa bersalah. Gejala ini merupakan semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.

Teori Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu, tanpa Ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah, selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominasi orang tua yang menekan. Walau demikian, tokoh otoriter tak harus berasal dari lingkungan keluarga.

Teori Pengkondisian. Inilah yang sering disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini kerap disebut juga “latah gaul”.

Jenis-Jenis Latah

Syarat munculnya latah adalah adanya keterkejutan. Jadi, latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendalai setelah adanya reaksi keterkejutan atau kaget. Ada empat macam latah yang bisa dilihat berdasarkan gejala-gejala tersebut, yaitu ekolalia (mengulangi perkataan orang lain), ekopraksia (meniru gerakan orang lain), koprolalia (menucapkan kata-kata yang dianggap tabu atau kotor), automatic obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut).

Menyembukan Latah

Apapun penyebabnya, jika terus-menerus diganggu atau dikageti, pengidap latah akan merasa terganggu dan lelah. Untuk mengurangi dan meyembuhkan latah, Ia harus bisa membulatkan niatnya untuk sembuh dalam arti tidak mensengajakan untuk latah. Berusaha tuk mencari ketenangan, misalnya keluar dari rumah kalau orangtuanya kerap melakukan tekanan, atau berusaha mengontrol diri ketika dia berada dalam kelompok sosial yang dapat menulari penyakit ini atau bahkan keluar dari kelompok sosial ini.

Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang harus berempati, dimulai dengan si penderita yang meminta lingkungannya untuk mendukung dan tidak memperparah dengan memancingnya latah. Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita dianjurkan melakukan relaksasi dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah melakukan aktifitas yang menyenangkan yang tidak membuat stress.

6 pemikiran pada “Bicara Soal “Latah”

  1. Hahaha kalo si Uti udah mencakup seluruh jenis2 latah yang loe sebut aldi…kalo dah selesai dari Gunadarma, pasti sembuh deh tuh anak…hihihihi

    1. hehehehehe,, yup emang dah komplikasi beliau mah…. sepertinya orang seperti dia justru akan mnyebarkan penyakit ini seusai dia studi di gunadarma, sebagai tanda bukti tri dharma pengabdian kepada masyarakat.. wekekekekek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s